Channelindo.com, MINAHASA – Kasus HIV di Kabupaten Minahasa masih menjadi perhatian serius. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Minahasa mencatat sebanyak 24 kasus HIV ditemukan.
Angka tersebut mencapai sekitar 66,7 persen dari total 36 kasus yang tercatat sepanjang tahun 2025. Meski data 2026 baru mencakup enam bulan, jumlah temuan tersebut sudah mencapai lebih dari separuh total kasus selama satu tahun pada 2025.
Bila dilihat dari rata-rata temuan per bulan, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar tiga kasus per bulan. Sementara pada Januari hingga Juni 2026, rata-rata temuan mencapai empat kasus per bulan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, Dr dr Olviane Rattu MKes, menggambarkan keberadaan Orang Dengan HIV (ODHIV) di Minahasa seperti fenomena gunung es.
“Yang terlihat hanya puncaknya, tetapi yang berada di bawah tidak terlihat. Mungkin saja yang tidak terlihat itu lebih banyak,” ujar Rattu, Senin (3/8/26).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena kasus yang telah ditemukan dan tercatat kemungkinan hanya sebagian dari jumlah sebenarnya di masyarakat.
“Masyarakat diharapkan tidak takut melakukan pemeriksaan serta dapat memanfaatkan layanan kesehatan untuk mendapatkan informasi, konsultasi, dan deteksi dini,” kata Rattu.
Dikatakannya, Dinkes Minahasa juga memastikan bahwa pengobatan HIV tersedia secara gratis. Namun, pengobatan tersebut harus dijalani secara rutin dan berkelanjutan atau seumur hidup sesuai arahan tenaga kesehatan.
“Obat tersedia gratis dan pengobatannya harus dijalani secara berkelanjutan,” jelasnya.
Olviane menerangkan, penularan HIV paling banyak berkaitan dengan hubungan seksual tanpa perlindungan.
“HIV juga dapat menular melalui paparan darah yang terinfeksi, termasuk penggunaan jarum yang tidak steril secara bergantian, serta dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat,” bebernya.
Sementara itu, HIV tidak menular melalui air liur dalam interaksi sehari-hari, seperti berbicara, berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau menggunakan peralatan makan yang sama.
“Saya mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan, memahami informasi yang benar mengenai HIV, serta tidak memberikan stigma maupun melakukan diskriminasi terhadap ODHIV,” ujar Dr Olviane.
Ia menambahkan, dukungan sosial, pemeriksaan dini, pengobatan yang rutin, serta edukasi yang tepat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV di Kabupaten Minahasa.
“Fenomena gunung es menjadi pengingat bahwa kasus yang ditemukan mungkin hanya sebagian dari kondisi yang ada. Deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, edukasi, dan penghapusan stigma harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.
Perbandingan Data HIV di Kabupaten Minahasa: (Sumber Dinkes Minahasa)
– Tahun 2025: 36 kasus selama 12 bulan
– Januari sampai Juni 2026: 24 kasus selama 6 bulan
– Rata-rata 2025: sekitar 3 kasus per bulan
– Rata-rata Januari sampai Juni 2026: sekitar 4 kasus per bulan
– Jumlah temuan enam bulan 2026: sekitar 66,7 persen dari total kasus sepanjang 2025.













